Cerpen : Merlinda Si Pemuas Nafsu Part 01

Merlinda Si Pemuas Nafsu Part 01 - Kecantikan wajah yang dimiliki Merlinda, justru membuat nasibnya demikian terpuruk. Dia harus menanggung penderitaan, karena tidak bisa lepas dari kekangan nafsu om-om yang usianya diatas lima puluhan. Awal dari penderitaannya itu, karena ulah dari Om-nya sendiri. Hari Siswoyo, suami dari adik kandung Ibunya sendiri. Merlinda yang malang itu, mau tidak mau harus merelakan tubuhnya, untuk menjadi pemuas nafsu dari suami tantenya sendiri.
"Rasanya sangat sulit bagiku keluar dari penderitaan ini. Semuanya sudah kepalang basah, aku sudah terjebak," ujar wanita bertubuh mulus ini. Kenapa bisa terjadi demikian?

******

Kurasakan ini benar-benar aib yang sangat memalukan. Sulit dibayangkan, bagaimana seandainya orang lain tau akan diriku. Bagaimana pula bila nanti Tanteku tau tentang hal ini? Apa yang akan terjadi? Tentunya malapetaka besar yang akan meledak. Doooooor!!!!
Kadang aku menangis membayangkan nasib buruk ini. Aku yang sudah kehilangan kedua orang tua, harus menikmati penderitaan yang begitu sarat. Sangat menyakitkan bila direnungkan. Secara diam-diam, sudah hampir empat tahun ini, aku menjadi wanita pemuas nafsu dari para lelaki lanjut usia. Semuanya itu aku lakukan karena terpaksa. Karena aku takut dengan ancaman dari Om-ku sendiri. Om Hari Siswoyo.

Kepada siapa nasib malang ini hendak ku sampaikan? Rasanya, tak ada satupun orang di dunia ini yang ku anggap tepat sebagai tempat melabuhkan ceritaku ini. Mau bercerita pada kedua kakakku, jelas tidak mungkin. Tentu mereka akan marah besar bila mengetahui perbuatan bejatku.
Sedangkan Tante Karmila, adik Ibu kandungku, benar-benar tidak tau kalau suami yang dianggapnya baik, sebenarnya telah menjeratku kedalam lumpur dosa maksiat. Tapi itulah, sebagian kepandaian Om Hari menyimpan bangkai di ketiaknya. Dia menyimpannya sangat rapi, hingga selama empat tahun ini, aku menjadi budak nafsunya, sekaligus ladang keuangannya. Semuanya tertutup rapat, tanpa ada seorang pun yang tau.

******

Mungkin banyak yang bertanya-tanya. Kenapa aku mau menjadi pemuas nafsu Om-ku sendiri dan juga teman-teman dari Om Hari? Mengapa aku tidak berontak dan lari saja? Atau berusaha mencari lelaki lain, agar aku bisa terbebas dari semua ini? Atau mungkin lebih baik menceritakan secara jujur pada Tante Karmila? Agar kebejatan suaminya dapat segera dihentikan.

Beribu-ribu pertanyaan seperti itu, memang pernah ada dalam benakku. Namun untuk menjawab satu persatu pertanyaan di atas tidaklah mudah. Dengan segala kelemahan yang ada pada diri ini, akhirnya, semua pertanyaan tinggalah pertanyaan. Tanpa jawaban.

Tak satupun pertanyaan di atas, mampu ku jawab dengan sebuah tindakan. Justru aku yang makin terjerumus ke dalam lembah yang hina dina ini.
Boleh dibilang, hampir dua kali dalam seminggu, aku harus menjadi budak nafsu Om Hari, yang memang terkenal ganas dan buas. Aku merasakan sendiri kehebatannya bermain di atas ranjang, yang selalu membuatku kewalahan. Belum lagi jika aku harus ke luar kota. Menemui relasi-relasi Om Hari. Aku pun mesti merelakan tubuhku untuk jadi santapan para bandot tua, yang punya nafsu segudang tapi tidak ada tempat untuk melampiaskannya.

Entah karena sudah terbiasa dengan kehidupan ini dalam waktu yang lama. Aku sudah tak merasa risih atau canggung lagi. Memang, pada awalnya aku dipaksa. Namun lambat laun, aku merasa tak aneh lagi dengan kehidupan yang aku jalani saat ini. Bahkan saat harus melayani para lelaki tua dengan orang yang berbeda, dan tentu saja punya perbedaan saat mereka berada di atas ranjang.

*****

Tante Karmila, adik Ibu kandungku yang telah meninggal dunia, adalah orang yang baik. Karena Ibuku telah tiada, dia ku anggap sebagai Ibu kandungku sendiri. Apalagi saat aku harus melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, Tante Karmila yang menanggung semua biaya kuliahku.
Dari SMP sampai SMA, aku ikut dengan Mbakyuku yang nomer satu. Karena keadaan perekonomian Mbakyu yang pontang-panting, akupun memutuskan untuk berhenti sekolah saja. Tapi kemudian datang Tante Karmila, dia yang mendorong dan memberikan semangat, agar aku bisa kuliah. Bahkan, dia bersedia menanggung semua biayanya.

Sejak itulah, aku tinggal di rumah Tante Karmila. Di sana aku tinggal dengan dua orang anak Tante, dan juga Om Hari. Anak-anak Tante juga sudah besar-besar. Anaknya yang nomer satu sudah SMU kelas 12, sedangkan yang ragil, kelas 10.

Suatu sore, saat hendak berangkat kuliah, sehabis mandi, terlebih dulu aku merias diri di kamarku, di lantai dua. Tak kuduga saat itu, Om Hari masuk ke kamar. Tentu aku terkejut. Ada apa ini? Apakah Om Hari tidak ke kantor?

Sambil menipu rasa kegusaranku, aku bertanya pada Om Hari. Tapi dia tidak memberikan jawaban apa-apa. Dia langsung menyerang, memelukku, hingga kami sama-sama jatuh di atas kasur. Sekuat tenaga aku berusaha berontak.

Om Hari mulai kurang ajar sekarang. Dia mau memperkosaku. Jari-jari tangannya yang perkasa berusaha melepaskan daster tipisku. Tangannya yang satu lagi, merayap di paha, menyingkapkan kain bawah. Sementara mulutnya berusaha menyerang bibirku.

Dengan kalimat yang terbata-bata, aku mengancam Om Hari, "Kalau... Kalau... Om terus begini, saya akan berteriak keras-keras. Aku akan berteriak biar orang di rumah ini tau semuanya."

Mendengar ancamanku, Om Hari malah tersenyum, "Berteriaklah. Apa kamu lupa kalau di rumah ini tidak ada orang sama sekali?"
Ya Tuhan!! Ini yang aku lupa. Saat itu aku baru sadar, kalau sore itu di dalam rumah sedang tidak ada siapa-siapa, selain aku dan Om Hari. Tante Karmila sedang ke rumah temannya, dan kedua anak Om Hari sedang ada tugas dari sekolah. Pembantu di rumah ini, yaitu Mak Jani, saat itu sedang pulang kampung.
Lalu kepada siapa aku harus minta tolong? Sebisa mungkin, aku tetap memberontak, tidak mau menyerah begitu saja. Om Hari tetap kudorong-dorong agar mau melepaskan pelukannya. Namun semakin ku dorong, semakin kuatlah pelukannya yang agaknya sudah dirasuki setan belang.

Kembali aku mengancam Om Hari, "Nanti aku akan membongkar semua ini pada Tante Karmila."
Kali ini turut pula disertai isak tangis kesedihan. Mata ini benar-benar gelap kala mengingat peristiwa itu. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain memberontak.

Masih ku ingat. Karena aku mulai sedikit putus asa lantaran tak bisa menghalangi kemauan Om Hari, ku ludahi wajahnya. Mungkin karena harga dirinya terinjak, buru-buru aku dilepaskannya. Aku beringsut ke ujung kamar, sambil duduk di lantai. Sebagian daster tipisku sudah robek di sana-sini. Tali bra ku pun sudah putus akibat ulah Om Hari.

"Ah... Kamu jangan jual mahal, Mer," oceh Om Hari, sambil menahan napasnya yang ngos-ngosan, "Kamu pikir dirimu itu siapa? Dan apa kamu pikir, aku tidak tau siapa kamu yang sebenarnya?"

Om Hari terus saja mengeluarkan ocehannya, "Kamu jangan berlagak sok suci, Mer. Bukankah kamu sering melakukannya dengan kekasihmu yang pengangguran itu? Kamu sering masuk hotel dengannya bukan? Jangan mungkir kamu."

Saat itu Om Hari sepertinya ingin membuatku terpojok. Tapi tuduhannya itu sama sekali tidak benar. Memang aku sering jalan dengan Arif, teman satu kampusku. Tapi kami tidak melakukan apa-apa. Bagaimana tiba-tiba Om Hari mengeluarkan tuduhan yang bukan-bukan? Kalaupun kami sering jalan berdua, itu karena ada tugas dari kampus, dan kami mengerjakannya bersama-sama.

Namun yang tak habis ku mengerti, dari mana tuduhan Om Hari itu datang. Apa yang ada di otaknya saat ini? Mungkin karena pikirannya sudah dipenuhi nafsu, sehingga ia menuduh dengan semaunya, tanpa bukti. Jelas ini fitnah yang sangat keji bagiku.

Aku masih tercenung dalam ketakutan. Manakala Om Hari masih menuduhku melakukan perbuatan yang sama sekali tidak pernah aku lakukan. Aku masih duduk di pojok kamar, sambil menutupi puting buah dadaku, karena tali bra yang sudah putus.

Aku menangis sesegukan. Sedih karena aku tak menyangka suami tanteku bisa berbuat nekat seperti ini. Sedih karena fitnahan yang begitu menyakitkan hati. Rasa ketakutan melingkupi pikiranku. Aku khawatir, jangan-jangan Om Hari nantinya akan berbuat lebih nekat lagi.

Penulis : Nyi Wingit Widiasmoro.

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Merlinda Si Pemuas Nafsu Part 01"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel