Cerpen : Menikah di Sekolah Part 1

Cerpen Menikah di Sekolah karya Mina Adam



Plak!!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku, cap jari-jari tangan membekas meninggalkan kesan merah. Perih, sangat perih, tapi lebih perih hatiku.

Tangan yang tidak pernah menyakiti itu melayang begitu saja. Aku sampai merasa pusing saking kerasnya.

Ironinya, tangan itu adalah tangan yang sama yang telah menjabat tangan Dewa beberapa menit lalu, saat ia terpaksa menikahkanku.

“Pergi kau dari sini!” bentak bapak sambil telunjuknya mengarah ke pintu keluar.

“Mulai hari ini kau bukan putriku lagi!” tatapnya penuh kemarahan. Mendengar kata-kata yang diucapkannya aku langsung bersimpuh sambil menangis.

“Pukul saja lagi Karin, Pak! Tapi Karin mohon jangan usir Karin dari rumah.” Aku memohon sambil memegangi kakinya. Tangisku kian deras.

“Lepaskan! Jangan sentuh kakiku!” bapak berkata sambil menarik kakinya dengan hentakan keras.

“Ibu ... Mbak ... Tolongin Karin. Karin nggak mau pergi dari sini.” Tatapku beralih, penuh pengharapan kepada dua orang yang sangat ku sayangi itu.

“Mas-” ibu berusaha menyampaikan sesuatu, tapi bapak langsung memotong kalimatnya.

“Apa? Apa yang ingin kau katakan? Kau ingin membela anak kurang ajar ini?” bentaknya sambil menghujani ibu dengan tatapan tajam.

“Bertahun-tahun aku sudah mengingatkannya, dan lihat apa sekarang yang sudah dia lakukan? Dia malah menikah dengan anak keluarga berengsek itu. Dia malah menikah dengan musuh keluarga kita!” ibu terdiam mendengar apa yang dikatakan bapak. Ia tau tak ada yang dapat dilakukannya saat ini.

Ibu melempar pandangan sedih ke arahku. Air mata terus mengalir membuat kedua pipinya basah. Begitu juga dengan Mbak Rena, Mbak Rena hanya mampu memeluk ibu sambil menangis, juga tak bisa berbuat apa-apa. Bapak sedang murka, dan itu semua karena aku.

Bapak lalu menyeretku ke kamar. “Kemasi pakaianmu!” perintahnya.

“Bapak ... Karin mohon...” Aku kembali berlutut dan memohon di kakinya.

“Karin tidak bersalah, Pak. Apa yang Karin sampaikan, itulah yang sebenarnya terjadi.” Aku masih terus memohon sambil tak henti-hentinya menangis.

Bapak lalu mengambil sebuah koper dan meletakkannya dengan kasar di hadapanku.

“Aku tak peduli kau salah atau benar! Yang jelas, karena kau, aku dipaksa menikahkanmu dengan anak dari musuh terbesarku. Sekarang, kosongkan lemari pakaianmu. Cepat!” bapak membentak sambil memelototkan matanya yang memerah.

Melihat tingkahku yang tetap mematung. Bapak membuka koper lalu menuju lemari dan mengeluarkan isinya secara serampangan, ia mencampakkannya begitu saja ke dalam koper. Dengan tergesa, menarik kancing untuk menutupnya kembali.

Kini, sebelah tangannya meyeret koper, sedang sebelahnya lagi menyeret tanganku.

Aku terus saja memohon ampunannya, tapi bapak benar-benar sudah sangat murka. Permohonan dan airmataku sama sekali tak dapat meluluhkan hatinya.

Sampai di depan pintu, takkala ia membukanya, ternyata disana sudah berdiri Dewa dan kedua orangtuanya.

Mereka baru akan mengetuk, dan sudah langsung dibuat kaget dengan pemandangan yang tersaji di hadapan mereka.

“Mau apa kalian kemari!?” bapak langsung menghardik. Awalnya bapak sama terkejutnya saat membuka pintu dan melihat mereka sudah berdiri disana.

“Kami datang untuk membicarakan masalah mereka,” terang Pak Surya, papanya Dewa.

“Tak ada yang perlu dibicarakan! Sekarang ... Silahkan pergi dari sini!” ucapnya sambil menatap para tamunya dengan penuh kemarahan.

“Kami semua meminta maaf dengan apa yang sudah terjadi. Mungkin inilah hukuman dari Allah karena kita telah memutuskan tali silaturrahmi.”

“Pandai bicara agama kau sekarang, hah! Lalu apa yang kau lakukan tiga tahun lalu? Kau lah yang memutuskan tali silaturrahmi.” Bapak bicara dengan emosi yang meluap-luap.

“Aku tau aku salah, Mad. Aku dan keluargaku sungguh minta maaf untuk itu semua.”

“Aku tak ingin mendengar sepatah katapun lagi dari mulut munafikmu itu. Sudah terlalu muak mendengarmu meminta maaf. Sebelum aku melakukan kekerasan terhadapmu dan keluargamu, cepat tinggalkan rumahku!” suara bapak terdengar menggelegar.

Para tetangga sudah mulai ramai menonton adegan yang tersaji gratis di depan mereka. Bahan baru untuk mereka gunjingkan selama berminggu-minggu.

Melihat kondisi bapak yang sedang sangat marah, Pak Surya tampaknya mengalah, tak mungkin mengajak bapak bicara dalam kondisi seperti ini. Setelah kembali memohon maaf, mereka pun memohon izin.

Saat mereka mulai beranjak dari sana, pandangan bapak kembali beralih padaku,ia lalu menghardikku sama ketusnya dengan menghardik keluarga Dewa.

“Lalu kau? Apa lagi yang kau tunggu? Kenapa masih saja berdiri disitu? Pergi kau dari rumahku, anak tak tau diri!” bentak bapak sambil mendorongku keluar. Dorongannya membuatku terjatuh, Ibu ingin menolong, tapi bapak mencegah langkahnya.

Melihat itu, Bu Ayu, mamanya Dewa berbalik, memegangi kedua pundakku mengajakku berdiri. Ia memintaku untuk ikut bersama mereka.

“Lihat! Kau sekarang punya keluarga baru,” dengusnya.

“Tiga tahun lamanya aku tidak bicara dengan mereka. Sekarang, karena ulahmu aku harus kembali berurusan dengan musuh terbesarku.” Bapak menatapku tajam.

“Setelah hari ini, jangan pernah berani lagi menginjakkan kakimu di rumahku! Kami bukan lagi keluargamu.”

Mendengar ucapan bapak aku pun menangis sejadi-jadinya. Ibu dan Mbak Rena juga melakukan hal yang sama. Ibu mencoba menyela perkataan bapak tapi bapak menyuruhnya diam.

Berkali-kali ibu berkata bahwa bapak tidak boleh berkata begitu kepadaku, bagaimanapun aku adalah putri mereka. Tapi lagi-lagi perkataan ibu dan isak tangisnya tidak dapat membuat luluh hati bapak.

Aku masih terus memohon ampunan, tapi Bu Ayu semakin menjauhkanku, memaksa untuk pergi dari sana. Bapak kemudian membanting pintu.

Aku masih terus menjerit-jerit, tak peduli kelakuanku itu malah membuat para tetangga semakin ramai mendatangi rumah kami.

“Tenanglah ... Karin. Bapakmu sedang marah. Ia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Ayo! Ikutlah ke rumah kami. Tinggallah di rumah kami sementara sampai bapakmu tenang dan bisa memaafkanmu.” Aku hanya diam mendengar perkataan Bu Ayu, seseorang yang baru saja menjadi ibu mertuaku.

“Ayo! Nak,” ajak papa Dewa. Bu Ayu setengah menarikku menuju sebuah mobil sedan BMW yang terparkir di dekat pagar. Akhirnya aku pun mengikuti langkah mereka, karena memang tak tau harus kemana.

Sekilas sempat kulirik Dewa karena dia hanya diam saja sedari tadi. Ternyata dia juga sedang memperhatikanku. Pandangannya terlihat iba. Detik berikutnya kami sama-sama membuang muka.

Aku duduk di kursi belakang bersama Dewa. Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Semua larut dalam pikiran masing-masing. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara isak tangisku.

Selang 20 menit perjalanan, mobil yang ku tumpangi berhenti di sebauah gerbang tinggi. Sebuah rumah bergaya american classic berdiri dibelakangnnya.

Rumah yang sangat mewah. Jika dibandingkan dengan rumahku sungguh tak ada apa-apanya. Seorang lelaki berseragam satpam buru-buru membuka pintu pagar.

Aku masih saja duduk di dalam mobil saat semua orang sudah keluar dari sana. Melihat itu, Dewa menuju sisi kanan tempatku, membuka pintu dan memintaku untuk turun. Tapi aku tetap bergeming. Dia kemudian menarik lenganku.

“Lepaskan! Jangan berani-beraninya kamu menyentuhku lagi!” mendengar bentakanku Dewa reflek melepas tangannya.

Melihat ketegangan yang terjadi, Bu Ayu menghampiri kami dan memintaku turun. Dia meminta Dewa memasukkan koperku yang ada di bagasi.

Aku berjalan bersisian dengan Bu Ayu memasuki rumah besar itu. Ini memang bukan kali pertama aku datang, sekitar 3 tahun yang lalu aku pernah kesini. Saat keluargaku dan keluarga Dewa masih bersahabat, sebelum terjadi permusuhan yang sangat hebat diantara kami semua.

Bu Ayu memanggil seseorang dan memintanya membereskan sebuah kamar. Sebelumnya, ia meminta wanita berumur kisaran 50-an itu menyiapkan minuman untukku. Wanita paruh baya itu pun segera berlalu kembali menuju dapur melakukan tugas yang diperintahkan kepadanya.

Sekilas mengedarkan pandangan, kulihat Dewa masuk sambil menjinjing koper. Sedang Pak Surya langsung memasuki kamarnya setelah izin kepadaku dan istrinya. Katanya kepalanya sangat pusing dan ia ingin beristirahat.

Setelah meletakkan koper, Dewa naik ke lantai dua menuju kamar pribadinya.

“Duduklah disini sebentar, sambil Mbok Nem membuatkanmu minuman. Setelahnya ia akan membereskan kamar untukmu. Maaf ... Kami belum sempat menyiapkan kamar pengantin. Jadi untuk sementara, tidurlah di kamar tamu.”

“Aku tidak ingin kamar pengantin, aku tidak ingin tidur sekamar dengan Dewa,” jawabku cepat.

“Baiklah, Aku mengerti. Sebenarnya banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi mungkin, ini bukanlah waktu yang tepat. Istirahatlah dulu, nanti kita akan bicara.” Tak lama, Mbok Nem datang menyuguhi kami minuman dingin.

Mbok Nem langsung berlalu dari sana untuk merapikan kamar tamu yang akan menjadi kamarku sementara. Kenapa ku bilang sementara? Karena memang aku tidak ingin selamanya tinggal di rumah ini. Nanti setelah tau apa yang akan ku lakukan, maka segera akan angkat kaki dari sini.

Bu Ayu mengangkat telpon genggamnya saat ada panggilan masuk entah dari siapa, dia bicara sebentar, nada suaranya terdengar putus asa, lalu membenarkan bahwa putranya Dewa telah menikah.

Usai menutup telpon, Mbok Nem datang menyampaikan bahwa kamar sudah rapi. Bu Ayu lalu mengajakku ke sebuah kamar yang cukup luas. Koperku sudah lebih dulu diletakkan Mbok Nem disana.

“Istirahatlah dulu, Karin. Susunlah pakainmu dilemari ini,” ia membuka satu pintu lemari.

“Dan di sana, di sudut itu,” tunjuknya. “Adalah kamar mandi. Anggaplah ini kamarmu sendiri.” Aku melihat ke arah yang ditunjuk.

“Baiklah, aku keluar dulu,” ucapnya sambil berbalik.

“Katakan apa saja yang kamu butuhkan kepada Mbok Nem. Oya ... Apa kamu sudah makan siang?” tanya Bu Ayu sambil membalikkan wajahnya kembali menatapku.

“Aku sedang tidak ingin makan,” jawabku pendek.

“Baiklah, aku tinggal dulu. Istirahatlah.” Bu Ayu meninggalkan kamar.

Setelah menutup dan mengunci pintu, segera menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. Rasanya lelah sekali. Baru saja ingin memejamkan mata, terdengar pintu diketuk.

Dengan malas aku menyeret kaki menuju pintu lalu membukanya. Kulihat Mbok Nem berdiri dengan senampan nasi lengkap dengan lauk, sayur dan segelas air.

“Maaf mengganggu, Non. Saya diminta Nyonya untuk mengatar ini,” ucapnya hati-hati, sambil matanya mengarah ke makanan yang ia bawa.

“Terimakasih, Mbok. Tapi maaf, saya sedang tidak ingin makan. Bawa saja kembali ke dapur,” ujarku.

“Maaf, Non. Kata Nyonya, walaupun Non tidak ingin makan, saya tetap harus meletakkan ini di kamar Non Karin,” ucapnya masih terdengar hati-hati.

“Baiklah ... Sini nampannya, Mbok.” Mbok Nem menyerahkan nampan berisi sepiring makanan itu, aku berterimakasih kepadanya.

Sebelum Mbok Nem berlalu dari sana, aku menanyakan apa ada mukena yang bisa kugunakan untuk sholat, juga bertanya kemana arah kiblat. Mbok Nem menjawab semua pertanyaan lalu meminta izin.

Sebelum menutup pintu dan menguncinya, ku sampaikan kepada Mbok Nem bahwa aku ingin istirahat dan tidak ingin diganggu lagi. Mbok Nem mengiyakan sambil kembali meminta maaf.

Setelah meletakkan nampan di atas nakas. Kembali kubaringkan tubuh di kasur yang sangat empuk itu. Tapi kemudian terpaksa kembali bangun saat ingat bahwa aku masih memakai seragam sekolah. Bisa-bisa besok malah tidak bisa sekolah karena pakaianku bau dan kusut. Sepertinya tadi bapak tidak memasukkan semua pakaianku.

Ya. Aku memang hanya menggunakan seragam abu-abu putih, seragam SMA saat akad nikah siang tadi.

Setelah merapikan pakaian, aku menuju kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian. Usai mandi, terdengar sayup-sayup gema azan ashar dari pengeras suara mesjid. Segera kupakai mukena dan melaksanakan sholat ashar saat muazin mengakiri panggilan iqamah.

Cukup lama aku duduk di tikar sajadah, larut dalam doa, memohon ampun pada Allah atas segala dosa yang telah ku lakukan. Tak lupa mendoakan ibu dan juga bapak, memohonkan ampunan untuk mereka dan memohon agar Allah menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baik penyelesaian. Tanpa ku sadari aku malah tertidur.

Sebuah ketukan di pintu membangunkanku. Begitu kagetnya mendapati ruangan gelap, hanya ada setitik cahaya berwarna biru dari pendingin ruangan. Setelah menyesuaikan diri dengan ruangan gelap, mulai meraba-raba menuju pintu.

“Astagfirullah ... Karin! Kenapa tidak menghidupkan lampu?” tanya Bu Ayu segera saat pintu terbuka.

“Maaf, tadi ketiduran,” jawabku sedikit gugup. Bu Ayu menuju saklar dan menekan tombol lampu.

“Aku kira tadi kamu hantu pakai mukena begitu dalam gelap,” lanjut Bu Ayu setelah ruangan kembali terang dan wujudku terlihat jelas.

“Sudah shalat Magrib?” tanyanya melanjutkan.

“Apa sudah Magrib?” tanyaku balik.

“Sudah Azan dari beberapa menit yang lalu. Jadi kamu pakai mukena itu tadi untuk shalat ashar?”

“I-iya, Tante.”

“Mama! Menurutku kamu harus mulai memanggilku mama!” sedikit terkejut mendengar kata-kata Bu Ayu, Aku menatapnya sesaat lalu kembali menunduk.

“Bukankah seharusnya kamu memang memanggilku mama?” tanyanya karena melihat keterkejutanku. Aku diam saja tidak menjawab perkataannya. Dia seperti mencoba memahami sikapku dengan menyunggingkan sebuah senyuman.

“Shalatlah dulu, setelah itu keluar ya, kami menunggumu untuk makan malam.”

“Tidak usah, saya makan di kamar saja. Tadi Mbok Nem mengantar makanan,” ucapku sambil melihat ke arah meja. Sengaja mengganti kalimat panggilan dengan saya, agar terdengar lebih sopan.

“Jangan makan itu lagi, makanannya sudah dingin. Baiklah, kalau mungkin kamu masih sungkan untuk makan semeja dengan kami, nanti Mbok Nem akan mengantarkan makan malam ke kamarmu.” Aku sebenarnya ingin membantah, tapi Bu Ayu tidak memberi kesempatan.

“Sebenarnya, tadi Mbok Nem ingin membangunkanmu saat menjelang magrib, sedang kamarmu masih gelap,” terangnya.

“Tapi karena tadi kamu memesan ingin istirahat dan tidak ingin diganggu, makanya Mbok Nem tidak berani membangunkanmu,” Bu Ayu menjelaskan sambil menuju ke arah nakas, lalu mengambil nampan berisi makanan yang belum ku sentuh sama sekali.

“Shalatlah dulu, lalu makan makanan yang di antar si Mbok. Setelah itu keluarlah! Kami menunggumu. Kita harus segera bicara.” Bu Ayu keluar dari kamar. Aku masih berdiri di depan pintu.

Sungguh aku sedang tidak ingin membicarakan masalah ini. Rasanya terlalu melelahkan, terlalu menguras emosi dan terlalu sakit mengingat bagaimana bapak telah mengusirku hanya karena sebuah kesalahpahaman.

Tapi aku juga tidak berani membantah omongan Bu Ayu. Bagaimanapun, cepat atau lambat, kami semua memang harus bicara.

bersambung...

***

Terima kasih telah membaca cerpen "Menikah di Sekolah", nantikan part berikutnya

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Menikah di Sekolah Part 1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel